Selasa, 29 Maret 2016

Life is Simple

Hari ini, ada suatu pembelajaran yang saya petik. Saya merenungkan dalam-dalam, saya menarik nafas panjang, dan saya ... bersyukur ... Tuhan baik sama saya, Tuhan memberikan banyak hal bagi saya ... dan yang lebih hebat nya ... Tuhan memberikan saya pengetahuan untuk menjaga iman ...



Life is simple, ya ... memang sederhana jika kita memang memandang dari sudut kesederhanaan hidup itu sendiri. But it's just not Easy, ya ... benar juga. Keinginan, kemelekatan ditambah ketidaktahuan membuat hidup kita menjadi sulit untuk sederhana :P



Seorang murid, mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidupnya. Perceraian orang tua, tertundanya pembayaran uang sekolah, tuntutan gengsi dalam pergaulan ... Hal ini seharusnya dapat diselesaikan apabila si murid dan orang tua dapat bekerja sama, meninggalkan ego masing-masing dan berusaha untuk mengendalikan hidup serta fokus dalam menyelesaikan masalah.

Malu sebenarnya jika saya mengatakan hal ini. Karena saya juga dalam taraf belajar, dalam taraf menyelesaikan masalah-masalah hidup, dalam taraf mengatur hidup saya sendiri.

Sulit sekali, sebagai guru, wali kelas, orang tua, istri dan anak harus menyejajarkan dengan ego diri sendiri. Menurunkan ego diri untuk kepentingan orang-orang disekitar. Menyabarkan diri akan ketidak-pedulian orang lain terhadap diri kita, meski seberapa banyak pun usaha yang kita lakukan untuk mereka.
Namun, hal itu suatu kenyataan yang harus saya terima, dimana saya pun belum mampu mengatasi 100% permasalahan dalam hidup saya.

Benarkah Life is Simple?
Kalau saya renungkan secara mendalam, memang hidup itu sebenarnya sederhana. Makan, minum, istirahat, bekerja mencari nafkah dan bersenang-senang. Semua dapat dipenuhi dengan mudah... bener kan? Mudah, jika kita bisa menerima kondisi dan hidup kita.

Misal penghasilan kita sebanyak 1500K, jika kita bisa mengatur keuangan dan hidup sesuai dengan budget itu, ya... pasti kita bahagia.
Yang terjadi adalah keinginan-keinginan atau kekhawatiran kita lebih besar dari kemampuan kita saat ini. Seperti yang saya hadapi, kalau tiap hari saya mau makan dengan lauk pauk seadanya, minum air putih yang dimasak di rumah, ya sudah tentu saya tidak perlu pusing memikirkan bagaimana mendapat uang jajan lebih. Contoh, saya sering punya keinginan untuk makan ayam goreng... burger.... piza... dll. Saya suka minum air minum mineral yang kemasanannya eye catching... !! Kemasannya lo.... !! Saya senang nongkrong di kedai teh !!
Keinginan-keinginan itu bener-bener membuat saya menjadi susah. Meski saya tahu ini, tetap saja saya agak sulit melepaskan belenggu keinginan tersebut. Bahkan saya rela lembur agar bisa dapat tambahan untuk nongkrong di cafe !


Jika refreshing dapat kita lakukan dengan beribadah di tempat ibadah atau duduk di pantai sekadar menikmati sunset atau sunrise.... Kan gratis....
Namun kebanyakan orang punya standar yang ingin dipenuhi, seperti asyik sih duduk di pantai sekadar menikmati sunset atau sunrise, tapi.... kayaknya lebih asyik kalau di pantai Kuta !!
Walah... biaya kesana plus ongkos nginap....

Dan masih banyak lagi lo... contoh-contoh yang bisa jadi kita alami sendiri. Payahnya bagi sebagian orang segala keinginan itu tidak mampu diwujudkan, sehingga berujung stress.
Ck... ck... ck... saya sendiri juga kadang begitu ... keinginan saya biasanya dipengaruhi oleh idealisme-idealisme yang ada dalam pikiran saya ini. Dan tidak jarang hal itu berbenturan dengan kondisi atau kenyataan bahkan orang lain.





0 komentar:

Posting Komentar