Tulisan ini tentang mimpi
Mimpi setiap orang
Bagaimana mewujudkannya
Dare to Dream Big
It's Time to Act
Bagi sebagian orang, bermimpi adalah suatu hal yang mustahil. Saya pun sering mendengar seorang ayah atau ibu yang berkata "Halah to le, wong cilik koyo dewe iki kok pingin nduwe omah gedong, eling to le..."
Kata-kata yang terucap tidak selalu sama persis, tapi mengandung arti yang sama, yaitu jangan bermimpi tinggi, karena kita ada orang 'kecil'.
Dulu saya bersekolah di sebuah sekolah yang eksklusif, banyak teman-teman saya adalah anak dari orang kaya. Barang dan bekal mereka tentu saja mewah. Liburan mereka sebagian besar di luar negeri. Saya sering mendengarkan rencana liburan dan tentu saja cerita liburan mereka. Asyik sekali.
Saya bermimpi, suatu saat saya ingin bisa ke luar negeri. Tentu saja, beberapa teman yang seperti saya pernah mengatakan "Ah, mana bisa, paling-paling kita cuman berwisata ke pantai sama orang tua"
Ayah saya mengatakan "Ya, mengapa tidak? Pak Suharto dulu anak desa, kemudian jadi presiden." Well, senang rasanya mendengar ayah saya mendukung.
Dan... ya saya kesampaian mengunjungi beberapa negara, seperti singapura, malaysia dan korea. Malah saya pergi ke singapura hingga 4 kali. Hal ini saya sampaikan bukan untuk berbangga hati, namun untuk menunjukkan, bahwa bermimpilah, tidak apa-apa.
Mimpi membuat kita jadi semangat, apa lagi jika orang yang dekat dengan kita ikut mendukung. Pertanyaannya, apakah cukup dengan bermimpi saja?
Mewujudkan mimpi-mimpi kita ternyata jauh lebih sulit dari yang kita bayangkan. Kadang perjuangan untuk sampai kesana benar-benar meneteskan tidak hanya keringat tapi juga air mata. Rasa putus asa yang sering mendera, apalagi jika keterbatasan kita cukup besar.
Saya sering membayangkan untuk dapat menggapai cita-cita sama seperti pergi ke jakarta. Ada orang yang pergi ke Jakarta pakai pesawat, ada yang pakai kereta, bus, mobil, sepeda motor, ada juga yang nekat pakai sepeda, becak, bahkan jalan kaki !
Semua alat transportasi diatas dapat digunakan untuk pergi ke Jakarta. Tentunya dengan berbeda-beda kenyamanan dan kecepatan.
Tetapi pada intinya semua dapat pergi ke Jakarta !
Jadi semua orang bisa menggapai cita-citanya. Hanya dibutuhkan niat dan keteguhan hati dalam memperjuangkannya. Bagaimana jika kita hanya bisa jalan kaki ?? Ngenes banget tentunya ya !?
Tidak mengapa meskipun hanya jalan kaki. Saya pun tidak punya biaya ke luar negri, hanya berbekal kepandaian saja. Tiap kali saya teringat keinginan saya, saya menjadi semangat. Setiap kali ingat akan kesulitan saya, maka saya berusaha berpikir untuk mengatasi dan mencari cara.
Saya pergi pertama kali ke luar negeri dengan biaya sponsor. saya memenangi kontes pembuatan materi pembelajaran berbasis komputer.
Ketika membuat, tidak ada yang membantu saya, di rumah komputer yang saya miliki tidak sebagus di kantor. Saya sering pulang malam, membuat materi lomba. Setelah selesai, mulailah bagian yang menegangkan, materi lomba tidak dapat dikirim lewat POS karena sudah mepet waktunya, jadi harus kilat, tidak kurang travel, kereta api bahkan lewat pos udara, aduuuhhh.... semuanya tidak mau jika hanya 1 hari. Padahal itu adalah batas akhir mengumpulkan.
Saya sempat putus asa, saya pikir ya... saya sudah berusaha mungkin belum jodoh... Namun, suami saya yang melihat saya demikian gigih sebelumnya, mulai mencari cara. Dia mengajak saya langsung ke stasiun dan akhirnya ada satu agen yang mau kirim materi lomba saya dan berjanji sampai di panitia sebelum jam 12 siang esok hari.
Dua minggu setelahnya, saya mendapat pemberitahuan bahwa karya saya menjadi finalis. Horay!! Saya senang sekali, saya berangkat ke Jakarta. Biaya siapa ya ??? Aduh... saya lupa memperkirakannya. Dengan hati gemetar juga sungkan, akhirnya saya cerita ke pimpinan... Sekali lagi Horay !!! Pimpinan dengan senang hati mengajukan proposal ke Yayasan dan disetujui akhirnya saya berangkat ke Jakarta dengan biaya perusahaan.
Ada pemberitahuan pakaian harus resmi dan sepatu kerja... Ups... saya baru sadar ternyata saya tidak pernah memperhatikan penampilan saya, dan... saya selalu bekerja dengan sepatu kets hahaha... Untung ibu mertua saya masih punya sepatu kerja, kuno dan agak lusuh. Ah tak mengapa toh hanya untuk wawancara.
Sampai di jakarta juri mulai memanggil para finalis satu per satu. Tiba giliran saya, sol sepatu nampaknya tidak bersahabat, kok ya bisa lepas lho.... padahal tempat wawancara tinggal selangkah lagi. Kejadian ini tentu saja memancing geli para peserta lain. Namun karena saya hanya memikirkan wawancara, maka saya seret sepatu itu dan saya berdiri di depan juri.
Berbagai pertanyaan seputar metode dan hasil ditanyakan dan berhasil saya jawab.
Sesi pengumuman di malam hari, saya menjadi juara ke-2. Oh... senang sekali, perasaan saya saat itu seperti mau menelan telur asin utuh. Saya menerima ucapan selamat dari peserta finalis yang lain. Ternyata selain hadiah yang saya terima, pihak sponsor juga memberikan kesempatan bagi para juara untuk belajar di universitas terkenal di Singapura selama 10 hari.
Saat itu saya berdiri gemetar di panggung, menahan bahagia dan haru, andai disana ada suami saya... tentu saya akan peluk dia erat-erat.
Jadi bermimpilah... berusahalah, jika menemui kesulitan jadilah bagian dari solusi...
Mengeluh hanya membuat hidup kita menjadi sulit. Bergembiralah, berpikirlah positif, berteman dan lihatlah dunia sebagai bagian dari perjuang hidupmu yang membahagiakan.


0 komentar:
Posting Komentar