A Teacher's Letter
Saya masih ingat, waktu itu cuaca cerah. Semua orang bergegas dengan urusannya masing-masing. Beberapa guru mondar mandir membawa baki, lainnya membawa barang-barang yang dibutuhkan. Seorang bu guru dengan lincah menghitung nasi kardus yang harus dibagikan di setiap meja. Saat itu berlalu dengan cepat. Saya tersenyum mengingatnya.
Acara wisuda di lapangan basket. Para siswa tersenyum ceria, saling berpelukan dan berangkulan. Para guru wali menata barisan, siap menuju panggung wisuda. Sementara beberapa siswa mengumandangkan lagu-lagu nostalgia mereka. Saat itu berlalu dengan cepat. Saya tersenyum mengingatnya.
Ketika siswa dipanggil satu persatu, tayangan wajah kebahagiaan mereka muncul di proyektor, dan kucir topi wisuda dipindahkan. Ketika penghargaan atas prestasi siswa dan guru dibacakan. Ketika kembang api diletuskan sebagai penutup acara. Saat itu berlalu dengan cepat. Saya tersenyum mengingatnya.
Saya berangkulan haru dengan siswa dan siswi, berfoto bersama, makan es puter sajian khas wisuda. “Bu saya akan kembali suatu hari nanti!”. “Bu saya akan melanjutkan kuliah di bidang yang sama dengan ibu!”. “Bu terima kasih atas pelajaran yang sudah ibu berikan.”. Kami berjabat tangan, berpelukan dan saling menepuk pundak. Saat itu berlalu dengan cepat. Saya tersenyum mengingatnya.
Itu wisuda terbaikku. Tergetar dengan rasa haru, bangga dan syukur yang hebat. “Inilah jalanku, inilah diriku, aku… seorang guru.”
Namun secepat itu pula jaman berubah, kurikulum berganti, era kepemimpinan berganti, gedung berpindah. Senyum mulai memudar. Peningkatan kedisiplinan, bayang-bayang denda, rasa iri antar manusia menghantarkan diriku ke era yang baru. Berbagai program yang memaksa dan kesan mercusuar terasa kaku. Kegundahan melanda… Inikah jalanku? Inikah diriku? Aku… seorang guru.
Tekanan kurikulum, tekanan manajemen sekolah, tekanan berbagai program mercusuar. Adakah oasis diantaranya? Hanya sambutan hangat setiap siswa yang menghiburku. Hanya pujian-pujian kecil siswa yang menjadi kelegaanku. Tatapan tulus beberapa siswa, yang memberi tangan sebagai salam di akhir pelajaran, membuatku tersenyum. Inilah jalanku. Inilah diriku. Aku… seorang guru.
Tidak boleh ini. Tidak boleh itu. Guru harus begini. Guru harus begitu. Harus lewat sini tidak boleh disitu. Minta persetujuan, tidak ada keterlambatan. Setahuku, aku manusia biasa. Beberapa siswa berlari dengan membawa piala mereka. “Thank you bu, ini semua karena bimbingan ibu. Foto bersama yuk!” Aku bahagia, aku manusia biasa. Inilah jalanku. Inilah diriku. Aku… seorang guru.
Guru harus lebih begini. Guru harus lebih begitu. Sebaiknya guru begini. Sebaiknya guru begitu. Jangan lengah, jangan lupa waktu, jangan hanya diam, jangan terlalu banyak bicara. Setahuku, aku manusia biasa. “Yah… sudah selesai… Bu, kalau diselesaikan dengan algoritma lain apakah bisa?”. “Bu, saya berhasil membuat program macro di dalam powerpoint”. “Bu, ibu bisa menggunakan sistem Linux? Saya tertarik mempelajarinya”. Aku bahagia, aku manusia biasa. Inilah jalanku. Inilah diriku. Aku… seorang guru.
Suara gedebukan kaki berlari mengejar waktu. Di tangga kami berkejaran. Suara tawa terbahak antara aku dan siswaku. Saling mendahului masuk kelas. Kami terengah-engah di dalam kelas, ada tawa lebar diantar kami. Aku bahagia, aku manusia biasa. Inilah jalanku. Inilah diriku. Aku… seorang guru SMA, ditengah lautan remaja milenial!
Happy teacher’s day!

0 komentar:
Posting Komentar