Jumat, 12 April 2019

Eranya Pendidikan Anak Milenial Part 1

gambar diambil dari Wikihow.com

Saya heran, dulu saya merasa nyaman menjadi guru, karena pada dasarnya sebagai guru saya senang berbagi. Saya banyak membantu murid dan saya merasa senang membantu mereka.
Tapi sekarang ini, saya merasa tidak bahagia. Murid-murid saya bukanlah murid-murid yang menyenangkan. Saya tahu beberapa dari mereka memiliki masalah serius dalam hidupnya. Beberapa berasal dari keluarga yang tidak lengkap. Beberapa merupakan korban bullying. Namun, sikap mereka benar-benar membuat saya tidak nyaman.


Mereka gaduh di kelas, seenaknya sendiri, "cocote, asu, bajingan, cuk" adalah contoh kata-kata yang sangat fasih keluar dari mulut mereka. Saya heran, apakah di rumah pun mereka dengan mudahnya bicara begitu ya??

Saya membayangkan di dalam rumah mereka, saat makan malam:
Ayah : "cuk, kowe mau ulangan ora?"
Anak : "Rak lah cuk"
Ibu : "Asu.... segone tumplek ik"
Anak : (ketawa ngakak) "Cocote cuk... ati-ati to mangkane"
Apakah itu yang terjadi di meja makan?

Wow... kalau memang iya, maka tidak heran di kelas mereka pun demikian santainya mengatakan kata-kata itu.
Bahkan ketika saya mengumumkan ulangan, mereka dengan santainya bilang "cocote..." Oalah.... beginilah rupa  kelas sebuah sekolah dengan slogan berkarakter. Sungguh mengenaskan....

Mereka sangat arogan, seperti tidak butuh guru. Saya heran, jika tidak butuh guru, kenapa sekolah? Kenapa sekolah di sekolah yang harus bertatap muka dengan guru? Kenapa tidak sekolah yang online saja? Atau misalnya kenapa tidak sekolah privat atau homeschooling di rumah?

Di depan guru, mereka sangat melecehkan, mengangkat kaki diletakkan di kursi, seperti seorang penguasa. Ditegur pun tidak merasa salah. Wow....
Jika harus dilaporkan dan jika benar-benar kaku dengan peraturan yang berlaku maka berapa banyak anak yang langsung keluar dari sekolah ini ya? Memaki guru merupakan hal yang normal buat mereka malah hal yang memang seharusnya... seperti kata cocote itu tadi...

Dulu saya bangga menjadi bagian dari sekolah ini. Sekarang tidak lagi, melihat kondisi saya yang seperti ini. Bagaimana saya bisa mengajar dengan bagus jika saya tertekan, tidak nyaman dan tidak bahagia.
Melihat wajah-wajah mereka saja saya tidak enak, saya sering memalingkan wajah dari mereka. Antara sakit hati dan merasa bahwa mereka bukan level saya. Bukan level saya? Ya, bukan. Saya bukan orang yang bisa bicara seperti itu dengan siapa saja pun dengan orang yang lebih muda dari saya. Saya terbiasa mengucapakan tolong, terima kasih dan maaf. Saya terbiasa menaati peraturan.
Jadi secara kondisi itu saya merasa jauh lebih tinggi dari mereka. Mereka punya handphone keluaran terbaru (mungkin...) mobil keluaran terbaru (mungkin...) dan segala hal yang ada didunia (er... mungkin....) tapi karakter mereka perlu dipertanyakan dan ... er... disangsikan....
Sering membuat masalah... yup! tidak ada orang yang sempurna. Suka tidak sadar bahwa dirinya salah... yup! banyak orang yang khilaf. Hanya satu yang tidak dapat ditolerir... tutur kata mereka itu loh... amboi sekali.

Saya punya seorang siswa dulu... Anak yang bandel sekali. Namun tutur katanya tidak pernah membuat orang merasa tersinggung. Sebaliknya, dia selalu berhasil memenangkan hati para gurunya. Kebandelannya pun relatif sesuai dengan umurnya. Seperti berusaha mencontek, bolos pelajaran, tidur di kelas. Jika ditegur guru, dia selalu tersenyum, minta maaf dan berjanji tidak mengulangi lagi... meskipun ya... mengulangi... Hahahaha
Namun banyak guru yang merasa sayang sama dia, karena selalu menyapa "selamat pagi bu/pak", "halo bu/pak". Jika bertemu di jalan tidak malu/canggung menyapa, demikian pula orang tuanya. Guru mana yang tidak leleh....
Meskipun dimarahi, tidak sekalipun kata-kata kasar keluar dari mulutnya, sebaliknya dia selalu mengatakan bahwa dia menyadari kesalahannya. Guru mana yang tidak leleh.... Tidak cuma itu, tugas-tugas selalu selesai, meski ada juga yang tidak rajin, tapi kelihatan banget ada usaha untuk maju... Nah, coba guru mana yang tidak leleh....
Saya pun tidak tega memberi nilai jelek, sebaliknya saya mengundangnya ke kelas, mengajarinya langkah demi langkah dan memberinya kesempatan untuk memperbaiki nilai. Setelah itu, dia mengatakan "Thanks ya bu, ibu udah kasih kesempatan buat saya". Guru mana yang tidak leleh...???

Saya tidak tahu bagaimana dengan sekolah lain. Apakah para guru juga terbiasa mendengar kata-kata "ajaib" itu? Apakah mereka juga terbiasa dikatai seperti itu? Saya sangat berharap, bahwa jawabannya "Tidak bu, di sekolah kami anak-anak tidak seperti itu"


0 komentar:

Posting Komentar