Jumat, 12 April 2019

Eranya Pendidikan Anak Milenial Part 2

Dari situs kompasiana.com

Saya suka dengan tulisan dari Aprizky Junior tentang maraknya kata kotor/ kata kasar di jaman sekarang ini.
Mengutip dari tulisan Aprizky, menurut psikolog, seorang anak terbiasa berkata-kata kasar/ kotor tergantung dari lingkungannya. Jika lingkungannya terbiasa dengan kata-kata kotor/kasar, maka anak itu juga berpotensi untuk bicara kotor.
Sebaliknya, jika anak-anak terbiasa dengan lingkungan pendidikan yang bagus, maka mereka akan lebih memahami bahwa hal tersebut tidak baik.

Ada banyak faktor seorang anak bicara kotor, contoh sebagai luapan emosi, sebagai rasa bangga (bisa bicara kotor), bahkan agar bisa diterima oleh lingkungan yang suka bicara kotor.
Yang manarik, di artikel ini dikatakan bahwa anak-anak yang terbiasa bicara kotor, cenderung emosian, tidak sabaran dan keras kepala. Cocok!!!

Apakah pantas seorang anak terus berkata kasar dan kotor?
Bagaimanapun juga kata kasar dan kotor mengandung hal negatif dan menunjukkan rendahnya intelegensi seseorang. Menurut David Wechster (1986), beliau mengatakan bahwa intelegensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berfikir secara rasional dan menghadapi lingkungannya secara efektif.
Dikatakan intelegensi anak rendah karena perkataan kasar itu sendiri mengandung cacian, makian, kebencian, ketidaksabaran, kekesalan, menyakiti orang lain, dan tindakan lain yang menunjukkan ketidakmampuannya dalam menghadapi lingkungannya dengan baik.

Ada beberapa artikel lain yang saya baca tentang hal ini. Termasuk artikel bagaimana menjadi guru jaman sekarang yang harus menghadapi lunturnya budaya sopan santun.

Jika saya guru SD maka saya akan memberikan kelonggaran sedikit pada siswa yang seperti itu, saya akan berusaha mendekati dan melakukan komunikasi. Jika saya guru SMP maka saya akan berusaha menerapkan tarik ulur layang-layang dimana siswa diperkenalkan dengan sistem aturan sekolah dan kesopansantunan. Jika saya guru SMA ? Siswa SMA sebenarnya akan terjun ke masyarakat. Mereka tidak boleh diperlakukan seperti anak SD atau SMP. Maka saya akan berlaku seperti masyarakat pada umumnya. Ada aturan yang mesti diterapkan, ada sedikit kekakuan yang muncul. Saya pikir siswa SMA sudah selayaknya belajar hidup bermasyarakat. Harus muncul norma kesopanan dalam diri mereka.
Jika mereka merasa menjadi korban, entah itu dari keluarga tidak harmonis atau ketertekanan baik di lingkungan sekolah atau keluarga, maka mereka tidak boleh melempar begitu saja sampah mereka pada para guru. Mereka harus belajar menghormati orang lain dan berlaku sesuai ketentuan yang ada.

Saya capek ...

0 komentar:

Posting Komentar